Tampilkan postingan dengan label SAJARAH SUNDA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SAJARAH SUNDA. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Juli 2020

SUSUNAN RAJA-RAJA PAJAJARAN

0 komentar


  1. Sri Baduga Maharaja Prabu Guru Dewapranata/Prabu Siliwangi/Ratu Jayadewata/Raden Pamanah Rasa/Raden Sunu (1475/1482 - 1521 M) 
  • Putra Dewa Niskala (Prabu Anggalarang), saudaranya seibu adalah Ningratwangi, sedangkan saudara lainnya seayah adalah Banyak Cakra/Catra atau Kamandaka, Banyak Ngampar, Ratu Ayu Kirana dan Kusumalaya.  Kamandaka inilah yang terkenal dalam legenda Lutung Kasarung. Dia menjadi penguasa daerah Pasir Luhur  di daerah Banyumas sekarang, setelah menikah dengan Ciptasari/Purbasari, putri raja Pasir Luhur. - Memerintah dari Pakuan Pajajaran. Kerajaan Sunda-Galuh yang namanya menjadi Pajajaran mencapai puncak kekuasaannya sekali lagi dibawah pemerintahan Prabu Siliwangi. 
  • Meskipun kemudian Cirebon dibawah pemerintahan Sunan Gunung Jati, melepaskan diri dari kekuasaan Sunda-Galuh. - Pertama kali dinobatkan sebagai raja Galuh, dengan gelar Prabu Guru Dewapranata - Dinobatkan kedua kalinya sebagai Raja Sunda-Galuh, dengan gelar Sri Baduga Maharaja Ratu (H) Aji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata mengambil gelar buyutnya Sri Baduga Maharaja Lingga Bumi untuk mengenang keberanian buyutnya tersebut yang gugur dalam peristiwa Palagan Bubat - Nama Siliwangi diberikan karena dia dianggap menjadi penganti (silih) Maharaja Prabu Niskala Wastu Kancana yang juga bergelar Prabu Wangi
  • Sewaktu lahir diberi nama Pamanahrasa oleh kakeknya Prabu Niskala Watu Kancana dan Jayadewata oleh ayahnya, Dewa Niskala. Pemberian nama oleh orang tua dan kakeknya merupakan suatu adat yang umum di Jawa Barat pada masa itu. Seperti juga nama Anggalarang dan Wangisuta yang keduanya merupakan nama dari Niskala Watu Kancana. Atau Sri Mangana dan Walangsungsang yang keduanya merupakan nama dari orang yang sama yaitu Pangeran Cakrabuana, pendiri Kerajaan Cirebon. 
  • Menikah dengan Ambetkasih/Ngabetkasih sepupunya sendiri, yang merupakan putri dari Ki Gedeng Sindangkasih, putra ketiga Wastu Kancana dari Mayangsari, yang menjadi Raja muda di Surantaka (Sekitar Majalengka sekarang). Dengan pernikahan ini dia ditunjuk menjadi pengganti Ki Gedeng Sindangkasih sebagai raja muda Surantaka. Dari Ambetkasih dia tidak mendapat keturunan. 
  • Istri keduanya adalah Subanglarang/Subangkratjang putri Ki Gedeng Tapa/Ki Gedeng Jumajan Jati yang didapatkannya melalui sayembara setelah mengalahkan Pangeran Amuk Murugul. Ki Gedeng Tapa sendiri adalah putra Ki Ageng Kasmaya, sehingga Subanglarang masih terhitung sepupunya. Dengan pernikahan ini dia juga ditunjuk menjadi Raja muda Singapura, pengganti Ki Gedeng Tapa. - Subanglarang, seperti juga ayahnya adalah seorang muslim. Dia menjadi murid dari Syekh Hasanudin (Syeh Quro), seorang penganut muslim Hanafi yang berasal dari Campa yang ikut dalam rombongan Laksamana Cheng Ho, seorang panglima perang dari Cina yang beragama muslim. Syekh Hasanudin adalah pendiri pesantren Quro di Pura/kota Karawang yang didirikan pada tahun 1416 M, dalam masa pemerintahan Wastu Kancana
  • Istri ketiganya adalah Kentring Manik Mayang Sunda, adik dari Pangeran Amuk Murugul. Kentring Manik Mayang Sunda, dinikahkan kepadanya untuk menyatukan kembali kekuasaan Sunda-Galuh yang sempat terpecah menjadi dua. Keturunan Kentring Manik Mayang Sunda dan Prabu Siliwangi inilah yang dianggap paling sah menduduki tahta Pajajaran. 
  • Istri lainnya yaitu Nyai Aciputih putri Ki Dampu Awang, seorang panglima perang dari Cina yang menjadi nakhoda kapal Laksamana Cheng Ho. - Untuk memperkuat pertahanan Keraton Pajajaran, Prabu Siliwangi membangun parit sepanjang tiga kilometer di tebing sungai Cisadane dan tanah bekas galiannya dijadikan benteng. Parit dan benteng ini terbukti berkali-kali berhasil menghindarkan Keraton Pajajaran dari serbuan musuh. - Menjadikan Banten dan Sunda Kelapa sebagai pelabuhan utama Pajajaran dan membangun jalan darat dari Sunda Kelapa ke Pakuan. Pelabuhan lainnya yaitu Pontang, Cigede, Tamgara (Tangerang),  dan Cimanuk, satu-satunya pelabuhan Pajajaran di sebelah timur dan sekaligus perbatasan antara Pajajaran dan Cirebon. - Selain itu juga dibangun jalan dan Sakakala Gunungan di Rancamaya, tempat perabuan raja-raja Pajajaran. Dan hutan sekitarnya dijadikan hutan larangan. Kemudian membangun juga Telaga Rena Mahawijaya sebagai sumber air yang digunakan untuk upacara keagamaan di Pakuan.   

2. Surawisesa/Ratu Samieum/Ratu Sangiang/Jayaperkasa, (1521 - 1535 M) - Putra Prabu Siliwangi (Pamanahrasa) dari Kentring Manik Mayang Sunda. Adiknya adalah Surasowan, yang menjadi Raja muda/ Ratu Anom di Banten Girang dan pendiri keraton Surasowan di Banten. 

  • Menikahi Kinawati putri Mental Buana (cicit Munding Kawati, tokoh dalam cerita Panji di Sunda yang merupakan salah satu raja muda Pajajaran yang memerintah di Tanjung Barat). - Menjalin kerjasama dengan Alfonso D’Albuquerque penguasa Portugis di Malaka untuk mengimbangi persekutuan Cirebon-Demak. 
  • Dalam kerjasama itu disepakati bahwa Portugis akan mendukung Pajajaran dengan kekuatan angkatan lautnya sebagai balas jasa hak dagang ekslusif di pelabuhan Sunda Kelapa, yang diberikan Pajajaran kepada Portugis.  Portugis kemudian berencana membangun benteng di pelabuhan tersebut. - Bersama Portugis berperang dengan Cirebon-Demak yang dipimpin Falatehan/Fadillah Khan/Arya Burah/Fatahillah, selama 5 tahun dengan hasil kekalahan Pajajaran di Banten dan Sunda Kelapa. 
  • Dengan kekalahan itu Pajajaran akhirnya mengakui Cirebon sebagai negara merdeka dan sejajar. - Kekalahan Pajajaran dari Cirebon ini menyebabkan Surawisesa masygul hatinya dan teringat akan kebesaran ayahandanya. Akhirnya untuk menghormati dan mengenang ayahandanya itulah ia membuat prasasti di Batutulis, Bogor sebagai tanda puja kepada ayahnya.


3. Ratu Dewata (1535 - 1543 M) - Putra Surawisesa - Merupakan seorang Raja-Resi - Pada masa pemerintahannya, pusat kerajaannya sempat diserang oleh pasukan tak dikenal yang kemungkinan besar merupakan pasukan pengintai dari Banten dan Sunda Kelapa. Serangan ini menyebabkan gugurnya panglima perang Pajajaran, Tohaan Ratu Sangiang dan Tohaan Sarendet. Meskipun serangan itu gagal, karena kokohnya benteng Pakuan yang dikelilingi parit, tetapi daerah sekitarnya berhasil diduduki oleh pasukan tersebut.


4. Ratu Sakti (1543 - 1551 M) - Putra Ratu Dewata - Dikenal sebagai raja yang lalim, kejam dan tidak bermoral. Merampas harta rakyat dan menghukum mati orang dengan sewenang-wenang. Melanggar pantangan ‘estri  larangan ti kaluaran" dengan menikahi wanita yang sudah bertunangan. Selain itu dia juga berbuat skandal dengan selir-selir ayahnya - Karena kesewenang-wenangannya, akhirnya dia diturunkan oleh Nilakendra, saudaranya satu ayah


5. Ratu Nilakendra / Tohaan di Majaya (1551 - 1567 M) - Putera Ratu Dewata - Dikenal sebagai penganut agama Tantra yang menggunakan mantra-mantra dan benda-benda sakti untuk menjaga diri dan kekuasaannya - Dikenal pula sebagai raja yang lemah dan kurang memperhatikan kehidupan rakyatnya, hanya bersenang-senang dan memperkaya diri sesuai ajaran Tantra - Setelah kalah dalam peperangan melawan Banten yang dipimpin Syekh Maulana Yusuf, putera Hasanudin, dia meninggalkan istana Pakuan tanpa raja dan memerintah dari Majaya


6. Raga Mulya / Prabu Surya Kancana / Pucuk Umun Pulasari (1567 - 1579 M) - Putera Nilakendra - Memerintah dari Pulasari, Pandeglang, setelah Kraton Pakuan dan bentengnya jatuh ke tangan Banten - Kekuasaan Pajajaran berakhir saat Banten berhasil menghancurkan istana Pakuan dan membawa Palangka Sriman Sriwacana, tempat duduk kala seorang raja Pajajaran dinobatkan, dari Pakuan ke istana Surasowan di Banten. Dengan dibawanya batu penobatan tersebut ke Banten, Pajajaran tidak bisa lagi menobatkan raja baru - Sebelum menanggalkan tanda-tanda kebesarannya dan mengasingkan diri lebih jauh ke barat,  ke Ujung Kulon, dia menyerahkan mahkotanya kepada Prabu Geusan Ulun, penguasa Sumedang Larang, putera Pangeran Santri dan Ratu Pucuk Umum sebagai pertanda penerus kekuasaan raja-raja Sunda-Galuh. - Keturunan Surya Kancana/Pucuk Umun Pulasari dan pengikutnya inilah yang dianggap sebagai orang Badui Banten sebagai leluhur mereka

Read more

Selasa, 30 April 2019

SRIJAYABUPATI

0 komentar



Galunggung


Geger Hanjuang

Sri Jayabupati digantikan oleh puteranya, yaitu  Darmaraja Jayamanahen Wisnumurti Sakalasundabuana, berkuasa pada tahun 1042 - 1065 M, didalam Fragmen Carita Parahyangan disebutkan : Nu hilang di winduraja lilana jadi ratu tilulikur taun. Darmaraja dikenal pula dengan sebutan Sang Mokteng Winduraja, karena dimakamkan di Winduraja.

Pengganti Darmaraja adalah Prabu Langlangbumi yang bertahta pada tahun 1065 – 1155 M. Fragmen Carita Parahyangan menyebutnya : Nu hilang di Kreta lawasna jadi ratu salapan puluh dua taun, lantaran ngukuhan kana lampah anu hade, ngadatang keun gemah ripah.

Pada masa pemerintahan Langlangbumi dianggap membawa kerajaan Sunda pada kesentausaan. Peristiwa sejarah yang menarik dalam masa pemerintahan Langlangbumi ialah berita yang termuat dalam prasasti yang ditemukan di Galunggung dekat bukit Geger Hanjuang, oleh penduduk setempat disebut Kabuyutan Linggawangi karena terletak di Desa Linggawangi, Kecamatan Leuwisari, Kabupaten Tasikmalaya. Prasasti tersebut kemudian disebut Prasasti ‘Geger Hanjuang’ atau Prasasti ‘Galunggung’.

Prasasti Geger Hanjuang sekarang disimpan di Museum Pusat dengan nomor D-26. Isi prasasti itu ditulis dalam huruf dan bahasa Sunda Kuna yang cukup terang untuk dibaca. Walaupun hanya tiga baris pendek namun di dalamnya tercantum tanggal dan tahun.

Isi prasasti tersebut, sebagai berikut :

tra ba i gune apuy na-
sta gomati sakakala rumata-
k disusu(k) ku batari hyang pun

Menurut RPMSJB (1983 – 1984) : Prasasti tersebut bertanggal tra (trayodasi = ke-13) ba (badramasa = bulan Badra) atau tanggal 13 bulan Badra (Agustus/September) tahun 1 (gomati) 0 (nasta) 3 (apuy) 3 (gune). Arti lengkapnya ialah : Pada hari ke-13 bulan Badra tahun 1033 Saka Rumatak (selesai) disusuk oleh Batari Hyang. - Karena tidak disebutkan paksa (separuh bulan) dalam prasasti ini digunakan sistem amanta (perhitungan tanggal dari bulan baru ke bulan baru) yang hitungan tanggalnya diteruskan sampai 30. Perhitungan menurut tarih Masehi kira-kira tanggal 21 Agustus 1111 masehi. (RPMSJB, buku ketiga, hal 17).

RPMSJB menjelaskan pula, bahwa : Rumatak oleh penduduk setempat disebut Rumantak, bekas ibukota Kerajaan Galunggung yang terletak tidak jauh dari bukit Geger Han­juang tempat prasasti itu ditemukan. Disusuk berarti dikelilingi dengan parit untuk pertahanan. Berita serupa dapat di temukan dalam prasasti Kawali dan Batutulis di Bogor. Sedangkan tokoh Batari Hyang di duga sebagai penguasa Kerajaan Galunggung waktu itu, adalah keturunan dan ahli waris Resiguru Sempakwaja pendiri Kerajaan Galunggung. (Ibid).

Kerajaan Galunggung
Pengaruh Galunggung terhadap perkembangan sejarah di tatar Sunda tidak terlepas dari eksistensi Resi Demunawan untuk menyatukan Sunda dengan Galuh, terutama ketika masa Sanjaya dan Manarah. Resi Demunawan mempersatukan Sunda dengan Galuh melalui perkawinan Manarah, Banga dan keturunan Saunggalah. Pengaruh dari Galunggung tersebut terlihat pula pada proses terbentuknya Perjanjian Galuh.

Pasca Resi Demunawan, Galunggung masih tetap memiliki pengaruh yang sangat kuat. Mengingat sejak pertama diperintah oleh Sempakwaja, Galunggung sudah menjadikan dirinya Negara Agama atau “Kebataraan”.

Kerajaan Galunggung telah ada pada Jaman Sempakwaja, putra Wretikandayun, pendiri Galuh (670). Daerah Galunggung diberikan Wretikandayun kepada Sempakwaja seiring dengan diangkatnya Amara – Mandiminyak, adik Sempakwaja sebagai putra mahkota Galuh. Sempakwaja diberi gelar Resiguru di Galunggung dengan gelar Batara Danghyang Guru. Menurut RPMSJB : “Sebuah naskah yang dimiliki oleh sesepuh Singaparna (berbahasa sunda berhuruf arab) dan berasal dari bagian akhir ada ke-19 masih menyebutkan tokoh sempakwaja diantara generasi pertama Kerajaan Galunggung. Ia masih dikenal dan disebut dalam berbagai mantra dan do’a. Ia sudah “didewakan” orang” (Buku Ketiga, hal.18). Mungkin yang dimaksudkan sudah  “didewakan” sama halnya dengan pemahaman saat ini, yakni “dianggap orang suci”, karena peranannya dimasa lalu.

Galunggung dari masa kemasa memainkan peranan yang cukup penting, terutama sebagai pengimbang Galuh dan Sunda. Pada tahun 723 M, Sempakwaja pernah menyerahkan Galunggung beserta daerah bawahannya kepada putranya, Resi Demunawan sebagai bagian dari pembentukan Saung Galah. Resi Demunawan dikenal pula dengan sebutan Sang Seuweu Karma atau didalam carita Parahyangan dikenal dengan sebutan Rahiyang Kuku.

Kekuasaan Galunggung dalam tradisi silam dianggap sebagai sumber ilmu, karena ia dirikan sebagai “kerajaan agama”. Galunggung menurut Fragmen Carita Parahyangan memiliki batas sebelah utara gunung Sawal, sebelah timur Pelang Datar, dan sebelah selatan Ciwulan.

Berdasarkan catatan sejarah Kabupaten Tasikmalaya, eksistensi Galunggung dimulai pada abad ke VII sampai abad ke XII, Kerajaan tersebut sekarang menjadi Kabupaten Tasikmalaya. Pemerintahan Galunggung pada masa awal berbentuk “Kebataraan”. Galunggung mengabisheka raja-raja (dari Kerajaan Galuh) atau dengan kata lain raja baru dianggap syah bila mendapat persetujuan Batara yang bertahta di Galunggung. Batara atau sesepuh yang memerintah pada masa abad tersebut adalah sang Batara Sempakwaja, Batara Kuncung Putih, Batara Kawindu, Batara Wastuhayu, dan Batari Hyang. Sejak masa Batara Hyang pemerintahan Galunggung mengalami perubahan bentuk dari kebataraan menjadi kerajaan, sehingga disebut Kerajaan Galunggung.

Pada abad ke 18 kerajaan tersebut masih ada dengan nama Kabupaten Galunggung, berpusat di Singaparna. Karena alasan Historis, penduduk Kampung Naga di Salawu tabu menyebut nama Singaparna, mereka tetap menggunakan nama Galunggung.

Tentang Kerajaan penguasa Galunggung, yakni Hyang Batari dikenal adanya ajaran – tetekon hirup yang dikenal sebagai Sang Hyang Siksakanda ng Karesian, ajarannya ini masih dijadikan ajaran resmi pada jaman Prabu Siliwangi (1482-1521 M) yang bertahta di Pakuan Pajajaran. Kerajaan Galunggung bertahan sampai 6 raja berikutnya yang masih keturunan Batari Hyang.

Batari Hyang disebut sebagai nu nyusuk na Galunggung. Ajaran yang tertulis dalam naskah itu disebutkan sebagai ajarannya. Tokoh ini pula yang dalam kropak 630 (Sanghyang Siksakandang Karesian) disebut sang sadu jati atau sang bijaksana atau sang budiman. Memang unik karena "pencipta" ajaran kesejahteraan hidup yang harus men­jadi pegangan para raja dan rakyatnya itu adalah seorang wanita. Namun sampai saat ini belum ada sejarah yang membeberkan masalah ini. Biasanya ajaran demikian merupakan dominasi laki-lali dan bersifat maskulin, terutama ketika menyangkut masalah agama atau keyakinan. Demikian pula alasan Batari Hyang membangun parit pertahanan sebagai perlindungan pusat pemerintahannya sampai saat ini juga belum dapat dijelaskan.

Amanat Galunggung
“Raja yang tidak bisa mempertahankan kabuyutan di wilayah kekuasaannya lebih hina ketimbang kulit musang yang tercampak di tempat sampah”. Demikian cuplikan dari Amanat Galunggung yang dikenal pula dengan sebutan Amanat Prabu Darmasiksa.

Amanat ini disampaikan oleh Prabu Darmasiksa raja Saunggalah kepada Rajaputra yang kelak menggantikannya di Saunggalah, sebelum Prabu Darmasiksa pindah ke Pakuan (1187) untuk menjadi raja Sunda yang ke-25. Dari kropak 632, yang ditulis pada daun lontar, diketahui, Rajaputra dimaksud adalah Sang Lumahing Taman.

Isi kropak 632 yang dijelaskan tersebut adalah dari “ajaran pembuat parit Galunggung”, sedangkan tokoh pembuat parit Galunggung dalam prasasti Geger Hanjuan dikenal dengan nama “Batari Hyang”. Ajaran ini digunakan oleh Prabu Darmasiksa untuk menasehati putranya, namun nasihat tersebut ditujukan pula untuk semua anak cucunya, keturunannya kelak.

Jika dicermati lebih jauh, naskah ini memuat tentang tata politik pada jaman dahulu kala, sedangkan fungsi Kabuyutan digunakan sebagai pusat kegiatan intelektual dan keagamaan. Dari naskah ini diketahui peran Kabuyutan pada waktu itu, yakni merupakan salah satu pilar penting dari keberadaan negaranya, merupakan pusat kekuatan gaib raja dan kerajaannya.

Dalam periode lainnya kabuyutan disebut dangiang Sunda, tempat harga diri urang sunda dipertahankan, sehingga tempat itu dilindungi oleh raja, bahkan dianggap sakral. Sehingga jika gagal melindungi kabuyutan Galunggung, ia (rajaputra) lebih hina dari derajatnya kulit lasun ditempat sampah. Demikian pentingnya kabuyutan bagi kelangsungan negara menurut pemahaman urang Sunda dimasa silam.

Kegaiban raja dan kerajaannya yang dimaksud mungkin menyangkut kekuatan spiritual dari nilai-nilai yang ada dan diajarkan didalam lingkup kabuyutan. Ia bisa menjadi tuntutan perilaku para pemimpin dalam menjaga negerinya dan menjaga tradisi Sunda.

Amanat Galunggung bukan suatu judul naskah yang langsung ditulis demikian, namun disebutkan bagi sekumpulan naskah yang ditemukan di Kabuyutan Ciburuy Garut. Penamaan terhadap kumpulan naskah menjadi ‘Amanat Galunggung’ diberikan oleh Saleh Danasasmita, yang turut mengkaji naskah ini pada tahun 1987. Menurut RPMSJB : Isi kropak tersebut yang dijelaskan sebagai “ajaran pembuat parit di Galunggung” (Batari Hyang) justru merupakan nasehat Darmasiksa kepada putranya sebelum ia berangkat ke Pakuan” (Buku ketiga, hal 20)

Naskah yang dikatagorikan sebagai salah satu naskah tertua di Nusantara ini diperkirakan disusun pada abad ke-15, ditulis pada daun lontar dan nipah. Naskah ini menggunakan bahasa Sunda kuno dan aksara Sunda.

Jika dihubungan dengan Prabu Darmasiksa yang diceritakan dalam naskah Amanat Galunggung, menyebutkan Darmasiksa pernah memerintah Sanggalah II. Nama keraton tersebut sama dengan nama Keraton Resi Demunawan di Kuningan, yakni Saunggalah. Pada periode berikutnya berubah menjadi Saunggatang atau Saungwatang, terletak di Mangun reja. Ketiga nama tersebut berarti sama, yakni Rumah Panjang, suatu julukan yang wajar disebutkan pada masa itu untuk sebuah Keraton.

Didalam penelusuruan tentang hubungan Saunggalah I dengan Saunggalah II ditafsirkan, bahwa Saunggalah II kelanjutan dari Saunggalah I. Pendapat ini tentu akan mempengaruhi terhadap penafsiran Prabu Darmasiksa, sehingga ia disebut-sebut masih keturunan Resi Demunawan.

Beberapa penafisran sejarah mencoba menghubungkan bibit buit Rakyan Darmasiksa, pada akhirnya menyimpulkan muasal leluhurnya dari Kendan. Jika kita menyoal masalah Kendan tentunya tidak dapat dilepaskan dari Galuh, sehingga tak heran jika banyak masyarakat yang menafsirkan Amanat Galunggung terkait erat dengan nilai-nilai yang berlaku umum di Galuh pada waktu itu. Konon kabar, ajaran Sunda Wiwitan yang sekarang dijadikan tetekon hidup justru berkembang di wilayah ini, tidak di Pakuan, yang kadang pacaruk dengan ajaran lain sehingga susah menemukan identitas dari ajaran Sunda Wiwitan.

Didalam carita Parahyangan disebutkan Darmasiksa, atau Prabu Sanghyang Wisnu memerintah selama 150 tahun, namun di dalam naskah Wangsakerta menyebut angka 122 tahun, yakni sejak tahun 1097 – 1219 Saka atau 1175 – 1297 M. Sebagai bahan perbandingan ada 10 penguasa di Jawa Pawathan yang sejaman dengan masa pemerintahannya. Ia naik tahta 16 tahun pasca Prabu Jayabaya (1135 – 1159) M, penguasa Kediri Jenggala Wafat, iapun memiliki kesempatan menyaksikan lahirnya Kerajaan Majapahit (1293 M).

Menurut Carita Parahyangan yang mengisahkan sejarah Galuh, naskah yang diberi nama Amanat Galunggung memulai ceritanya dari alur Kerajaan Saunggalah I (Kuningan) yang diperkirakan telah ada pada awal abad 8 M. Masa ini terkait dengan kisah perebutan tahta Galuh oleh sesama keturunan Wretikandayun, yakni antara anak-anak mandi minyak disatu pihak dan anak dari Sempak Waja dan Jantaka. Sehingga secara politis, Sanggalah dijadikan kunci penting dalam menyelesaikan pembagian kekuasaan diantara keturunan Wretikandayun.

Kemudian masalah eksistensi Sanggalah, tentunya tidak dapat pula dilepaskan dari eksistensi Demunawan yang memiliki keistimewaan dari saudara-saudara lainnya, baik sekandung maupun dari seluruh teureuh Kendan. Karena sekalipun tidak pernah menguasai Galuh secara fisik, namun ia mampu mempengaruhi pola kebijakannya. Teka-teki tentang pengaruh dan kewibawaan Demunawan, yang dituruti semua pihak yang bertikai di Galuh inilah yang mungkin dapat dijadikan sandaran, bahwa Demunawan memang seorang tokoh agama, yang menjadi cikal bakal Kerajaan Saunggalah I, mempunyai suatu “ajaran”. Kemudian dianut pula oleh keturunannya yang menjadi Raja di Saunggalah I (Kuningan) dan kemudian pindah menjadi raja di Saunggalah II (Mangunreja / Sukapura) yaitu Prabu Guru Darmasiksa.

Prabuguru Darmasiksa pertama kali memerintah di Saunggalah I. Letak wilayah tersebut disinyalir di desa Ciherang, Kadugede, Kuningan. Kemudian diserahkan kepada puteranya dari istrinya yang berasal dari Darma Agung, yang bernama Prabu Purana (Premana).

Amanat Prabuguru Darmasiksa dari setiap halaman, diberi nomor sesuai terjemahan yang diberikan oleh Saleh Danasasmita (1987). Sistematika rangkuman tersebut terbagi dalam 4 bagian, yakni : 

(1) Amanat yang bersifat pegangan hidup / tetekon hirup. ; 

(2) Amanat yang bersifat perilaku yang negatif (non etis) ditandai dengan kata penafian “ulah” (jangan) dilakukan. ; 

(3) Amanat yang bersifat perilaku yang positif (etis) ditandai dengan kata imperatif “kudu” (harus) ; 

(4) Kandungan nilai, sebagai interpretasi penulis.



Sumber bacaan :
  • Rintisan Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Barat, Jilid 2 dan 3, Tjetjep, SH dkk, Proyek Penerbitan Sejarah Jawa Barat Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat.
  • Sejarah Jawa Barat, Yoseph Iskandar, Geger Sunten, Bandung - 2005
  • Tjarita Parahjangan, Drs.Atja, Jajasan Kebudayaan Nusalarang, Bandung- 1968.

Read more

Senin, 22 April 2019

PAJAJARAN BAKAL NGADEG DEUI

0 komentar

Pakuan Ditinggalkeun Pangeusina
Sok sanajan Pakuan masih keneh bisa dipertahankeun, rasa hariwang teu bisa leungit. Lantaran dina waktu ka waktu peperangan teu bisa disinglar, sedengkeun sumber kahirupan geus hese ditarekahan.

Pangeusi Pakuan geus ngarasa heureut lengkah jeung pinuh ku kasieun, teu gampang milih jalan pikeun nuluykeun kahirupan, tetep di Pakuan atawa ngungsi ka tempat sejen. Teu salah panyawangan Surawisesa, boga firasat yen Pakuan bakal rungkad.

Pangeusi Dayeuh Pakuan ngan ukur bisa neger-neger sorangan. Di jero jeung luar dayeuh seperti geus beda alam.  Samemeh datang deui serangan, loba pangeusi Pakuan anu indit ngungsi diantarana ka pakidulan nyarieun deui kampung anyar di wewengkon Cilosok jeung Bayah, sanajan hatenamah teu werat ninggalkeun banjar karang pamidangan, tapi pikeun kasalametan diri jeung kulawarga, teu boga pilihan lain salian ti nyingkahan Pakuan nyalametkeun diri sewang- sewangan.

Ragamulya Suryakancana Raja Pajajaran anu pamungkas oge ngadegna teu di Pakuan deui, tapi dipangungsian (di Suku Gunung Pulasari, wewengkon Kadu Hejo, Kacamatan Menes, Pandeglang), dina kaayaan prihatin teu make atribut karajaan. Kulantaran kitu manehna disebut Pucuk Umun (Panembahan) Pularasi.

Palebah dieu rada hese kahartina, sabab Pulasari anu dijadikeun dayeuh Pajajaran anyar, tempatna ngadeukeutan Karajaan Surasowan Banten. Jiganamah manehna menang uga (pituduh) atawa dorongan batin yen puseur dayeuh kudu balik deui ka purbajati (titik asal).

Memang Pulasari baheulana patilasan Sang Aki Tirem, jeung tempat ngadegna Dayeuh Salakanagara ku Sang Dewawarman dina taun 130 Masehi. Sabenernamah geus hese neangan tohaan anu puruneun nerusken tahta Pajajaran, ngan tinggal Ragamulya sorangan anu masih keneh daekeun diadegkeun jadi raja.

Saenggeusna Panembahan Yusuf jadi raja nuluykeun bapana di Surasowan, manehna terang-terangan hayang ngaberesihkeun Pakuan. Geus dua kali gagal ngarurug Pakuan. Pikeun ngawujudkeun hasratna manehna nyiapkeun pasukan nu tohaga jeung menta bantuan karajaan Cirebon. Dina taun 1501 Saka (1579 Masehi),

Panembahan Yusuf bener-bener ngalaksanakeun ambisina ngarurug Pakuan.  Pakuan nu geus 12 taun ditinggalkeun ku Nilakendra masih keneh bisa ngadeg, tapi pangesina geus beda jeung samemehna. Pakuan harita ngan dieusi utamana ku pasukan anu boga pancen ngajaga karaton di Pakuan nu jadi simbul Pajajaran turun tumurun.

Nurutkeun sajarah Banten bisa ditembusna benteng Pakuan lantaran ayana laku hiyanat dulurna Ki Jongjo (pangawal Panembahan Yusuf), nu kabeneran boga tugas ngajaga gapura benteng Pakuan.

Manehna ngalakukeun kitu lantaran ngarasa nyeri hate teu naik pangkat. Akibatna pasukan Banten bisa asup ka jero dayeuh. Wallahualam, ieu katerangan teh bisa bener bisa henteu, ngan nu jelas kajadian eta ngagambarkeun kumaha kuat jeung tohagana benteng Pakuan.

Kajadian bobolna gapura benteng dayeuh, pasukan anu boga pancen ngajaga Pakuan jadi kalang kabut, lantaran musuh nu disanghareupan bener-bener teu saimbang. Atribut karajaan buru-buru disalametkeun ku Jaya Perkasa jeung pasukanna ke Sumedang Larang. Sedengkeun sesa pasukan mertahankeun titipan karaton nepi ka ajalna. Sakabeh pangeusi Pakuan dibinasakeun, malah karaton oge diduruk tepikeun ka euweuh sesana.

Jiganamah Panembahan Yusuf teh ambek kapegung, tadina boga harepan waktu balik bisa mawa atribut karajaan anu bisa dipake pikeun bukti ahli waris Pajajaran. Anu nyesa di Pakuan ngan tinggal Palangka Sriman Sriwacana nyaeta batu tempat diuk waktu ngadeg atawa dilantik jadi raja. Batu eta teh disebut oge “ batu gilang ” ukurannana 200 x 160 x 20 cm di boyong ka Surasowan, Banten.

Senggeusna rengse numpurkeun Pakuan, pasukan Panembahan Yusuf saterusna ka Pulasari narajang Ragamulya Suryakancana. Sakabeh pangesi dayeuh anyar Pulasari binasa euweuh nu nyesa.

Nurutkeun Pustaka Nusantara III/1 jeung Kretabhumi 1/2 nu cantumkeun dina sejarah Bogor “Pajajaran sirna ing ekadaca cuklapaksa sewu limang atus punjul siki ikang Cakakala” Pajajaran leungit dina tanggal 11 bagian caang bulan Wesaka tahun 1501 Saka. (Kira-kiara tanggal 8 Mei 1579.)

Mang hanjakalkeun Pakuan nu boga sajarah panjang ditumpurludeskeun ku Panembahan Yusuf. Padahal di Tatar Sunda mah Pakuan teh dayeuh nu boga umur pang panjangna. Lamun diitung-itung ti mimiti diadegkeun ku Tarusbawa dina abad 7 nepikeun ahir riwayatna kurang leuwih geus 9 abad. Komo lamun inget ka katerangan catetan Tome Pires waktu datang ngadeuheus ka Sri Baduga di Pakuan, nyebutkeun yen bangunan utama karaton teh make tihang kai nu jumlahna aya 330, gedena sagede gentong anggur, jangkungna kira-kira lima fathom (salapan meter). Jigana anu disebut bangunan utama teh lima karaton ngajajar tea nu dibere ngaran Sri Bima, Punta, Narayana, Madura jeung Suradipati.

Lamun nilik Panembahan Yusuf nu keukeuh hayang jadi ahli waris langsung Pajajaran jeung cara perang nu euweuh ras-rasan, asa jauh ti adat Sunda nu silih asah, silih asih, silih asuh, jeung miheulakeun babadamian. Komo deui lamun ditempo tina ajaran Islam mah anu ngutamakeun silaturahmi, euweh pisan mernahna. Padahal anu diperangan teh lain batur tapi masih kenah dulur sorangan.
Sumedang Larang Ahli Waris Pajajaran

Pikeun nyalametkeun atribut karajaan 4 kandaga lante (panglima/senapati) jeung pasukanna meuntas ka Karajaan Sumedang Larang. Nu kungsi kacatet dina sajarah yen pasukan nu meuntas ka Sumedang Larang teh ngan ngaran kandaga lantena wungkul nyaeta ; Sangiang Hawu alias Embah Jaya Perkasa, Batara Adipati Wiradijaya alias Embah Nangenan, Sangiang Kondang Hapa jeung Batara Pancar Buana alias Embah Terong Peot. Eta kandaga Lante teh kabehannana adi-lanceuk.
Kandaga lante anu meuntas ka Sumedang Larang, lain ngan saukur hijrah tapi boga maksud pikeun ngadegkeun deui karajaan gaganti Pakuan. Dipilihna Karajaan Islam Sumedang Larang keur neruskeun Pajajaran nu geus runtag, lantaran rajana Prabu Geusan Ulun masih rundayan Sri Baduga keneh.
Ku jaminan 4 kandaga lante jeung ngalantikna make atribut karajaan Pajajaran, Geusan Ulun disatujuan ku 44 raja daerah jadi nalendra (raja) neruskeun atawa jadi ahli waris Pajajaran anu wewengkonna sakabeh urut Pajajaran mineus Banten jeung Cirebon.
Pajajaran Ngan Kari Ngaran
Runtagna Pakuan nu jadi Dayeuh Pajajaran pikeun urang Sunda mah mangrupakeun musibah anu kacida gedena. Pajajaran bener-bener leungit teu ninggalkeun nanaon salian ti ngrananna nu geus sengit sumebar ka sakuliah Tatar Sunda. Nagri Sunda Pajajaran teu bisa ngadeg deui, saterusna ngan ukur bisa hirup dina hate jeung dina lamunan wungkul.
Masyarakat Sunda jaman harita umumna teu narima leungitna Pajajaran, nepikeun para pujangga oge dinu karyana loba nu ngumandangkeun “asa geus deukeut ka Pajajaran ceuk galindeng Cianjuran tapi jauh keneh ka Pakuan ceuk galindeng panineungan” . Kulantaran keukeuh teu narima ngarandapan kaleungitan nagri, ahirna ngubaran sorangan, majarkeun teh cenah “Pajajaran mah lain leungit tapi ngahiyang (tilem) engke oge dina hiji waktu bakal ngadeg deui,” kitu ceuk carita kolot-kolot anu geus patali batin jeung Pajajaran.
Nineungna ka Pajajaran nepikeun ka taun 80-an mah masih keneh sok dilagukeun, “Pangrango nu ngadadago gunung Gede nu mepende ngajak mulang ka Pajajaran”. Kitu galindengnateh mani nyeceb kana hate, ngahudang lamunan jaman baheula, Pakuan nu geus tumpur Pajajaran nu ngan kari ngaran.
Referensi :
Danasasmita, Drs. Saleh. 2003. Nyukcruk Sajarah Pakuan Pajajaran Jeung Prabu Siliwangi , Bandung : Kiblat Buku Utama
Danasasmita, Drs. Saleh. 2006. Mencari Gerbang Pakuan , Bandung : Pusat Studi Sunda
Danasasmita, Saleh.1983. Sejarah Bogor : Pemda DT II Bogor
Darsa, Undang A. dan Ekadjati, Edi S. 2006.
Gambaran Kosmologi Sunda,
Bandung : Kiblat Belajar Sepanjang Hayat
Ekajati, Edi S. 2003. Kebuyaaan Zaman Pajajaran (I), Jakarta : P.T. Dunia Pustaka Jaya
Ekajati, Edi S. 2003. Kebuyaaan Zaman Pajajaran (II), Jakarta : P.T. Dunia Pustaka Jaya
Ekajati, Prof. Dr. Edi S. Agama Jatisunda Sudah Ditinggalkan Ratusan Tahun Lalu – Islam, Agama Pilihan Utama dan Abadi Orang Sunda , Bandung : Pikiran Rakyat Edisi 10 Juni 2003
Iskanadar, Yoseph. 1997. Sejarah Jawa Barat , Bandung : CV Gerger Sunten
Lubis, Dr. Nina H. 2000. Sejarah Kota-kota Lama di Jawa Barat, Sumedang : Alqaprint Jatinangor
Nina H. Lubis Dkk. 2003. Sejarah Tatar Sunda , Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan Lembaga Penelitian Universitas Pajajaran & Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Jawa Barat
Rohaedi, Ayat. Raja Sunda Tidak Melarang Rakyatnya Pindah Agama,

Read more

Jumat, 19 Oktober 2018

RAKYAN SANCANG JEUNG SLAM

0 komentar

Agama Selam/eslam teh Ageman ki Sunda anu wiwitan atawa mimiti, nu geus aya abad ka 1 di Salakanagara sebenerna mah.
Pek wae pikiran ka aranjeunna sa'euncan aya Rosulullah di Mekah aya agama atawa heuteu pan ka daieuna aya Ibrahim karek aya agama selam di tanah Arab teh, kitu oge pan karek suhuf can aya kitab, ngan kadieuna aya Nabi Musa A.s nu mawa Taurot jeun Nabi Isa a.s anu mawa Injil na ageman teh kitu oge pan karek umatna nu di tanah israel saeuncan urang indonesia sawareh arasup nasroni waktu jaman kompeni Walanda, nu terakhir agama selam (islam) ku dibawa kunu Cahaya-an nyaeta Kanjeng Rosululullah SAW.

Ceuk urang Sancang jaman baheula : “Kami mah ngan kabagéan syahadatna wungkul, henteu kabagéan solatna”.

Sahadat Sancang
Asyahadu Saha-dzat Sunda;
Jaman Allah ngan Sorangan;
Kaduana Gusti Rasul;
Katilu Nabi Muhammad;
Kaopat umat Muhammad;
Nu cicing di bumi anggaricing;
Nu calik di alam keu'eung;
Ngacacang di alam mokaha;
Salamet umat Muhammad.

Satemenna, urang Sunda mangsa bihari, teu pati resep nulis ari lain dijieun pagawéan anu husus mah. Catetan lolobana ditalar jeung diapalkeun, terus wé turun-tumurun kitu. Anu pang ahirna, réa anu méngpar jeung dipabeulitkeun ku gésékan pakumbuhan sosial jeung budaya anu ngindung ka waktu ngabapa ka jaman.

Upama manggihan catetan tinulis geus bisa dipaparah jumlahna ngawates, ayana di kalangan ménak. Mun ragrag ka somah, éta naskah atanapi catetan kacida dipusti-pustina dijieun jimat bari anu ngukutna téh teu nyaho kana eusina. Rajeun nyaho, ukur dongéng cenah anu dicenahkeun deui.

Ceput Sawal

Cakrawarman adina Purna-warman kungsi baruntak ka alona, anu ngarana: Wisnuwarman (Raja Taruma-nagara ka-4, 434-455 M, anakna Purnawarman). Mangsa Taruma nagara dicekel ku Purnawarman Cakrawarman dibenum jadi Mahamantri jeung Panglima Perang Tarumanagara. Ningali Cakrawarman kasambut ku panah tentara Wirabanyu (pimpinan koalisi Taruma nagara) di wewengkon Manuk rawa Cimanuk, Ceput Sawal minangka Puragabaya Turangga ti tentara pemberontak Cakra warman, bisa ngaloloskeun diri tina pangepung tentara koalisi Tarumanagara. Ceput Sawal terus kabur ka pakidulan nepi ka wewengkon basisir, saterusna bumén-bumén di éta pileuweungan Sancang. Nya ti Ceput Sawal, ngarundaykeun turunan nepi ka Cakradiwangsa anu ceuk urang kampung adat Dukuh Cikelét mah: Candradiwangsa ti Karajaan Manukrawa.

Balad-baladna Ceput Sawal ti pasukan pemberontak, kaburna téh aya nu mangprét ka Wétan jeung aya nu ka Kulon. Nu ka Wétan, nyumput di Galunggung. Nu ka Kulon, labas ka Gunung Kolot Banten. Anak turunanana, ngababakan nyarieun kampung adat.

Rakryan Sancang
Mangsa Prabu Kretawarman – Raja Tarumanagara ka-8, Tarumanagara geunjleung pédah sang prabu ngawin awéwé ti golongan sudra. Setyawati dikawin ku Kretawarman téh lain awéwé teureuh ménak, tapi ti cacah kuricakan. Tapi kusabab sagala kalakuan raja mah geus jadi hukum nagara, wenang sakumaha karepna, antukna kajadian ieu disidem teu dibarubahkeun. Ngan dina hiji mangsa, Setyawati api-api ngaku reuneuh. Padahal pangeusi Tarumanagara geus apal cenah, yén Kretawarman téh dianggap mandul.

Pikeun ngaleungitkeun skandal ieu, antukna Kretawarman ngangkat anak anu ngaranna : Brajagiri. Manuver Kretawarman saperti kitu téh teu bisa ngabalukarkeun suasana karajaan jadi kondusif, tetep waé harénghéng. Najan kitu, Kretawarman tetep ngabahu-reksa jadi Raja Tarumanagara tepi ka tamat teu aya anu wani ngagunasika.

Pikeun nyingkahan harénghéng-na suasana di karaton, Kreta-warman kungsi bubujeng ka daérah pakidulan pernahna di wewengkon Sancang Garut.
Ti dinya, dihiji tempat, tepung jeung Nyi Arumhonjé siwina Cakradiwangsa, anu gawéna disagédéngeun pangebon ogé pamayang, tampolana mah jadi tukang ngala suluh ka leuweung. Kretawarman ka jamparing ati ka panahrasa, ningali kageulisan Nyi Arumhonjé. Teu ku hanteu maké silih kelétan sagala jeung Nyi Arumhonjé tempat silih kelétanana, kiwari nelah: Cikelét.

Nyi Arumhonjé terus baé dikawin, tapi dicampuran ngan ukur salapan poé da Raja kudu mulang, ngurus nagri ngolah nagara. Nyi Arumhonjé, ditinggalkeun lantaran embungeun dibawa ku Raja ka karaton. Sanajan kitu, dipipanumbasna mas kawin ti raja mah mangrupa pakéan jeung perhiasan, disérénkeun ka Nyi Arumhonjé.

Kitu deui lilingga anu dijieun tina gading dilapis emas minangka tanda kahormatan, dipasrah keun ka Nyi Arumhonjé – bisi jaga hayang nepungan raja ka nagara. Sabada ditinggalkeun ku Kretawarman, Nyi Arumhonjé terus kakandungan dina Naskah Pangéran Wangsakerta, Prabu Kretawarman téh disebutkeun teu bogaeun anak atawa mandul. Keun baé, da Naskah Pangéran Wangsakerta ogé masih disebut wadul alias disangka teu ilmiah.

Basa keur nyiramna, pikawatir-eun. Miraga tineung ka nu jadi carogé. Rara hulanjar wanoja anu dikantun ku panutan, antukna mah gering. Nepi ka mangsana ngajuru, Nyi Arumhonjé terus purané  maot. Untung orokna mah salamet anu saterusna dirorok ku nini akina, bari kituna téh teu wasaeun méré ngaran ukur nyebut : Jalu’ tampolana osok disebut ‘Rakryan’ (anak raja) dina ngébréhkeun kadeudeuhna téh. Budak anu disusuan ku citajén, tampolana mah ku susu embé ingon-ingon Aki Cakradiwangsa téh katingalina séhat. Gedé saeutik, geus bisa ngorondang. Sapopoéna, dibéré dahar lauk laut jeung beubeu-tian.

Ti keur orok beureum kénéh ogé osok dikojaykeun di laut, dina karang anu ngampar supaya teu kabawa ku lambak. Sanggeus bisa leumpang, osok mimilu ka akina ngala suluh ka leuweung atawa dibawa nguseup ka tengah laut. Ku akina diwarah ngojay jeung milebuh teuleum. Rada gedé saeutik, jadi budak jarambah. Karesepna taya lian ti ulin di Leuweung Sancang atawa ngangkleung di sagara dina luhur bahétra parahu.

Nepi ka mangsa rumaja, basisir Kidul mah geus jadi pangulinan Rakryan ti Pananjung nepi ka Panaitan. Salian ti kitu, Rakryan Sancang resep ngulik élmu kabedasan. Méh sakabéh anu weduk, didatangan diajak madwandwa yuddha ngalaga, gelut paduhareupan. Mun éléh osok terus diguruan, mun meunang osok terus dipisobat. Tara pinejahan maéhan ka musuh, ari lain kapaksa mah. Bayu sasanga kakuatan anu aya dina diri manusa, diulik kalayan daria. Ti harita, ngaranna jadi sohor : Rakryan ti Sancang Garut.

Tanah Arab
Sanggeus sawawa, Rakryan Sancang hayang panggih jeung anu jadi bapana. Ku akina diterangkeun sacéréwéléna teu di dingdingkelir sindangsiloka, yén bapana téh Maharaja Tarumanagara:  Prabu Kretawarman. Ku akina dibahanan lilingga ciri atawa tanda kulawarga raja, supaya di ditu teu disaha-saha. Geus kitu mah, Rakryan Sancang nyieun bahétra.

Sabada parahuna siap, laju ngangkleung ka kulonkeun di Sagara Kidul. Di Palabuhan Tanjung Lada Banten, reureuh heula saméméh neruskeun lampahna. Ti dinya papanggih jeung sudagar Arab anu ngabéwarakeun yén di tanah Arab aya agama anyar anu nyebarkeunana téh, jago pilih tanding tur sakti, ngaranna: Ali bin Abi Thalib. Kataji ku éta jago, Rakryan Sancang henteu tulus nepungan bapana di Tarumanagara. Ongkoh deui ngadéngé béja yén bapana geus muksa maot, diganti ku pamanna: Rajaresi Suddhawarman. Rakryan Sancang mutuskeun milu ka sudagar maké kapal gedé, nuju ka tanah Arab. Di satengahing balayar, Rakryan Sancang diajar paranusa basa anu dipaké di nagara-nagara deungeun.

Tepung jeung Ali bin Abi Thalib, Rakryan Sancang katétér jajatén. Geus kitu mah, Ali bin Abi Thalib dipiguru ku Rakryan Sancang. Saterusna jadi catrik santri, diajar agama Islam di Arab.

Agama Selam
Mangsa harita di tanah Arab, khalifah Abu Bakar di ganti ku Umar bin Khatab. Rakryan Sancang diajar agama Islam ku cara ditalar langsung ti Ali bin Abi Thalib, tacan aya buku Qur’an jeung buku Hadist aya ogé mushaf Al Qur’an di Siti Hafshah, istri Nabi SAW.

Mulang deui ka Sunda, Rakryan Sancang népakeun élmu agama Islam ka sobat-sobatna (abad ka-7). Pangpangna dilingkungan kaum Sudra kaum somah anu ajénna panghandapna. Pangikutna loba, bari terus nambahan. Kusabab basa Arab susah dihartikeunana, Rakryan Sancang ngajarkeun akidah Islam téh maké basa Sunda Kuna. Asmaul Husna ngaran-ngaran Alloh anu ku basa Sunda disebut Hyang, ditataan nepi ka 99 (Para Hyang). Nya Asmaul husna ieu anu disebut : Parahyangan tempat sumerah diri (Islam).

Kawasna baé ti harita, wewengkon Sunda sok disebut Parahyangan tug ka kiwari malah robah vocal, osok nyebut : Priangan. Ku para pangikutna, agama Islam téh disebutna: agama Selam. Agama urang Sunda anu wiwitan/mimiti.

Dina agama Sunda Wiwitan, aya anu unina kieu:
Nya inyana anu muhung di ayana; aya tanpa rupa; aya tanpa waruga; hanteu ka ambeu-ambeu acan; tapi wasa maha kawasa di sagala karep inyana.(nya manten Na anu Maha Agung diayana; aya tanpa rupa; aya tanpa wujud; henteu ka ambeu-ambeu acan; tapi kawasa maha kakawa saanana di sagala karep-Na).
Hyang tunggal tatwa panganjali; ngawandawa di jagat kabéh alam sakabéh; halanggiya di saniskara; hung tatiya ahung. (hyang tunggal anu Maha Luhung; satemenna tujuan utama manusa ‘sembahyang’/sembah Hyang; henteu boga anak henteu boga dulur; boga baraya jeung batur ogé henteu di jagat jeung ieu alam; anu pangunggulna dina sagala rupa hal; hung, tah éta téh nu ngagem bebeneran sajati, ahung). Upama ditengetan, apan éta harti kalimah téh sarua jeung surat Al Ikhlas anu béda, ukur basana.

Lawang Sanghyang
Rakryan Sancang terus muka pasantrén di Lawang Sanghyang lawang ka Gusti Alloh (maksudna mah meureun: masjid). Wewengkon Lawang Sanghyang di Nangkaruka, kiwari katelah jadi : Pakénjéng wancahan tina: pakéna élmu ajengan. Mimitina mah santrina téh ukur hiji dua urang, sobat-sobatna anu baheula kungsi ditalukeun ogé terus anut jadi santrina. Masjidna anu mangrupa wawangunan badawang sarat wangunan anu maké hiasan lauk, dijadikeun tempat meuseuh élmu agama Islam. Tihangna dijieun tina kai kalapa, ukuranana 7 x 9 méter, mangrupa wangunan panggung, hateupna ku injuk.
Rohanganana ngagemblang, aya kamar leutik lebah Kulon 2 x 2,5 méter. Di tengah-tengahna kosong, aya paimbaran tempat imam mingpin ibadah. Terus aya wangunan pawon dapur, jeung pagencayan wangunan tempat nutu paré. Leuit tempat nyimpen paré, rada anggang ti dinya. Aya pancuran tujuh Cikahuripan, keur dipaké susuci. Para wasi santri méméh arasup ka wangunan badawang sarat, wajib beberesih heula di pancuran tujuh Cikahuripan. Ja mandi junub/ hana ti sarira/santi ku ti katuhu/santi ku ti kényca/sungut nirmala nyarék/ ceuli nirmala ngadéngé (mandi jeung adus; beberesih awak; beresih ku ti katuhu; beresih ku ti kénca; sungut suci tina nyarita; ceuli suci tina pangdéngé).
Rohangan utamana disebut Hinten Managgay, nyaéta tempat pikeun muja parahyang asmaulhusna téa. Loba citrik byapari kaom terpelajar anu daratang ka dinya ngadon cacahan ngobrol, gotrasawala  diskusi, jeung tolabul ilmi nyuprih élmu.

Ceuk angkeuhan urang Hindu anu aya di Tarumanagara mangsa harita (638-639 Masehi), Rakryan Sancang dianggap geus nyebarkeun agama ‘kotor’. Agama anu mahiwal disebut ‘agama Sunda nu mimiti’ téh, salawasna ngabebegigan ka urang Hindu. Atuh meredih ka Rajaresi Suddhawarman Raja Tarumanagara ka-9 (paman Rakryan Sancang), sangkan ngahukuman Rakryan Sancang. Perang campuh Rajaresi Suddhawarman jeung Rakryan Sancang, dimeunangkeun ku Rakryan Sancang. Rajaresi Suddhawarman kasoran ngejat ti pakalangan bari terus diudag-udag ku alona (Rakryan Sancang), lamun teu dihalangan ku senapati Brajagiri anak kukutna Kretawarman (Kretawarman téh bapana Rakryan Sancang) mah tinangtu Suddhawarman baris kasambut ku wewesén Rakryan Sancang. Brajagiri nyadarkeun duanana, yén masih aya hubungan alo-paman. Taun 639 M Rajaresi Suddhawarman terus maot. Tahta Tarumanagara ragrag ka Déwamertyatma Hariwangsa warman jadi Raja Tarumanagara ka-10 anakna Suddhawarman, tapi teu lila jadi rajana (639-640 M), ukur bubulanan. Kaburu dipaéhan ku Brajagiri. Raja Tarumanagara ka-11 tungtungna ragrag ka minantuna Hariwangsawarman, anu ngarana: Nagajayawarman.

Satemenna,Hariwangsawarman téh anakna Suddhawarman ti putri karajaan Pallawa India. Hariwangsawarman digedékeun di Pallawa, kalayan meunang atikan anu keras dina urusan kasta. Waktu ngaganti bapana jadi Raja Tarumanagara di Tatar Sunda, Hariwangsawarman ngonclah Brajagiri tina kadudukan senapati karajaan jadi penjaga gerbang karaton.
Ku angkeuhan Prabu Hawiwangsawarman, Brajagiri diturunkeun pangkatna téh pédah lain ti golongan ménak karajaan. Brajagiri anu diangkat anak ku Kretawarman téh, ti golongan sudra. Nya pédah diturunkeun pangkatna tina senapati Tarumanagara jadi penjaga gerbang karaton ieu, anu ngabalukarkeun Brajagiri kolu téga maéhan Hariwangsawarman.

Sanggeus réngsé perang campuh jeung pamanna, Rakryan Sancang indit deui ka Mekkah (antara taun 640 M) rék neuleuman élmu agama, rada ngampleng di dituna. Ngampleng sotéh, ngilu jihad heula di Iraq; Mesir; Syria; terus ka Jerusalem jeung pasukan Islam. Mulang deui ka Tatar Sunda maké kapal sudagar Arab, malahan sababaraha urang Arab anu geus asup Islam ogé marilu. Di Palabuhan Sumatera Kalér, kapal téh balabuh heula. Ngakut barang dagangan, kayaning: kapol jeung pedes, saméméh diteruskeun ka Palabuhan Banten.
Kusabab angin jeung lambak laut kacida motahna, atuh rada lila cicing di Acéh na téh. Malahan sawaréh mah aya anu karawin ka urang dinya, anu saterusna jaradi urang Acéh. Ti harita, hubungan urang Arab jeung Acéh jadi raket. Sanggeus angin jeung lambak teu motah teuing, kapal dagang Arab rék neruskeun deui lalampahan ka Tatar Sunda. Tapi, teu ku hanteu. Di tengah laut, angin jeung laut motah deui. Kapal kapaksa kudu balabuh di Sumatera Kulon Minangkabau.
Tina kajadian éta, hubungan: Acéh; Minang; jeung Sunda (Rakryan Sancang) jadi kacida raketna. Samalah loba urang Acéh jeung Minang, anu milu tolabul ilmi di Pasantrén Lawang Sanghyang Pakénjéng Garut. Urang Acéh jeung Minang daratangna ka tempat éta, ngaliwatan laut anu saterusna nonggoh ka kalérkeun ti Darmaga Rancabuaya.

Samulangna di Tatar Sunda, Rakryan Sancang ngadegkeun pertahanan di Gunung Nagara Cisompet, Garut Kidul bari nyebarkeun agama Selam/Islam hasil talaran ti Ali bin Abi Thalib anu lolobana Akidah jeung Tauhid.

Pertahanan di Gunung Nagara, katelahna: kadatuan Suramandiri. Kacida wedel jeung kuatna, pikeun nyingkahan tina panarajang musuh ti luar. Nalika ngadéngé béja Ali bin Abi Thalib dibacok mastakana waktu keur sholat di Masjid Kuffah, Rakryan Sancang angkat deui ka tanah Arab. Miangna Rakryan Sancang ka tanah Arab, pikeun Nagajayawarman mah jadi boga kasempetan keur ngarurug umat agama Sunda nu mimiti. Tentara Tarumanagara diasupkeun jadi telik sandi mata-mata bari pura-pura asup agama Selam.  Atuh waktu pasukan Nagajayawarman ngagempur Gunung Nagara téh, harita kénéh burak teu manggapulia. Pertahanan Gunung Nagara, bangkar. Nu anut ka Rakryan Sancang, mancawura. Mulang ti tanah Arab, Rakryan Sancang kacida prihatinna. Ningali Gunung Nagara jadi kuburan masal. Ti dinya, terus indit ka Kalér. Lebah Cihideung, kungsi ngajejentul lila naker. Nyawang pasir anu tingrunggunuk, mulan-malen nyaksrak leuweung di eta patempatan wewengkon Cisompét nepi ka Pakénjéng. Sugan tepung jeung umatna anu birat, tapi lebeng. Pasukan Nagajayawarman ogé teu kapanggih saurang-urang acan. Terus ngalér deui, nepi ka Pasir Tujuhpuluh (Cikajang). Leuweung geledegan, batuna baradag sagedé pasir.
Di dinya nyawang ngalér ngidul, kabeneran halimun keur nyingray. Bréh Laut Kidul, asa hayang balik deui ka Sancang. Laju, turun mapay-mapay Cikaéngan. Sakur pasir anu diperhatikeun ku Rakryan Sancang, biwirna ngucapkeun: Subhanalloh. Di Sancang ogé, suwung. Taya saurang ogé umatna, atawa musuh nu nyampak. Basisir anu upluk-aplak, pinuh ku kikisik anu tingborélak. Biwirna, deui-deui ngucapkeun: Subhanalloh, bari ngeclakkeun cimata.
Di Sancang, asup ka hiji guha ngadon tirakat. Meunang sababaraha minggu, jengkar ti guha terus indit ka Kalér ka tempat panyawangan. Belecet deui ka Kulon, mapay-mapay pasir jeung leuweung. Lebah Gunung Kolot, ngarandeg heula. Sanggeus ngarandeg, ku sabab panasaran, Rakryan Sancang nuluykeun lalampahanana ngembat ngalér terus ngétan nuju ka Tarumanagara.
Anjog di puseur dayeuh Tarumanagara, Rakryan Sancang ngelendep asup ka karaton rék nyieun karaman di dinya. Tapi kaburu sadar, yén kitu peta téh teu matut jeung teu dipirido ku Hyang Tunggal tatwa panganjali Alloh SWT. Atuh niat nyieun kakacowan téh, bolay.
Geus wareg aya di wilayah karajaan bapana, Rakryan Sancang balik deui ka Kidul. Mapay-mapay walungan Cimanuk, anjog deui ka Pasir Tujuhpuluh. Di Pasir Tujuhpuluh, Rakryan Sancang ngababakan nyieun padépokan nepi ka maotna. Méméh dipundut ku nu Maha Kawasa, nyieun lalayang wasiat.
Ditulisna dina kulit uncal, meunang moro di éta pileuweungan. Eusina nyebutkeun ‘kakayaan urang Sunda nu ngahaja nyumput di pakidulan’ jeung wasiat pangwawadi, sakur ka anu bisa maca éta lalayang anu ditulis ku aksara Arab, ‘kudu nyebarkeun agama Islam’. Éta wasiat bakal kabaca ku turunan Raja Sunda, kurang tujuh abad anu bakal datang. Jeung tujuh abad deui, pakaya Sunda baris kagali.
Wallohu’alam…

Satemenna mah, karajaan Islam anu munggaran téh ayana di wewengkon basisir Kidul Pulo Jawa Tatar Sunda.
Gunung Nagara, tapi éta téh mung ukur karajaan leutik anu ka éréh ku Tarumanagara. Karatonna nelah : Suramandiri. Tatar Sunda mangsa harita, disebut: Parahyangan.


Cag...Rampes...

Read more

Selasa, 22 Mei 2018

PAMUSTUNGAN PAJAJARAN

0 komentar

Raja pamungkas pajajaran , Prabu SEDA / Prabu RAGAMULYA (1567 - 1579)
(NU siya Mulya / Suryakancana)

Raja  panungtungan kerajaan pajajaran  nyaéta Prabu Seda. Raja henteu cicing  di Pakuan, anjeunna ngalaman ditinggalkeun dina urutan perang gede kabuka Pakuan ku Bantam/Banten, sarta leuwih resep cicing di salah sahiji Karajaan wewengkon ayana di Kadu Hejo, Kacamatan Menes sabudeureun lamping Pulosari, Pandeglang. wewengkon nu aya diurut kota Rajatapura (salakanagara ibukota di AD 130 M).

Di lokasi anyar, raja ngabuka  pakampungan anyar di Cisolok sarta Bayah. Kuring heran, naon nu dipaké pamilih  Raja Seda milih aréa Pandeglang minangka ibukota anyarna.
dibikeuna daerah Pandeglang pagigir gigir jeung Kasultanan Banten.

Anjeunna maréntah tanpa makuta sabab saméméh ninggalkeun Pakuan, Raja Seda kungsi ngirim opat jalma Kandaga lante (panglima) kapercayaana pikeun mikeun barang (Makuta Binokasih) warisan karajaan Pajajaran ka Prabu Geusan Ulun anu maréntah di Kaparabuan Sumedanglarang.

Kandaga lante undur ninggalkeun karaton, diiring ku loba jalma anu pamustungan mutuskeun Pajajaran.

Aya ogé barang amanat Raja Pajajaran pusaka panungtungan dina bentuk makuta Binokasih Sang Hyang Pake Siger dijieunna tina emas jeung alat (nepi kakiwari masih disimpen leres di Museum Parabu Geusan Ulun, Sumedang).

Dina kakuasaan Raja Pajajaran prabu  Seda ieu salaku panerusna karajaan Pajajaran anu sempet runtuh kulantaran serangan ti kasultanan Banten Panembahan Maulana Yusuf, (Islam) sedengkeun salaku urang sakabeh  nyaho  Pajajaran nyaeta ageman jatisunda

Sabenerna, secara "de jure",  kakuatan Pajajaran geus béak waktos  kakuasaan Nilakendra. Sanajan kitu, pasukan Banten anyar sacara resmi "dipareuman" sanggeus aranjeunna junun ngaruksak ka ibukota Pakuan tembok kota Pakuan bakal pegat sanggeus panghianatan komandan pasukan Pakuan anu ngarasa nyeri hate  sabab tos  mangtaun taun teu di promosikeun  naek pangkat .

Pasukan husus banten  nyulusup ka jero kota sanggeus panto benteng munggaran dibuka ku penyusup Kateguhan benteng Pakuan dijieun ku Rakeyan Banga lajeng dikokohkeun deui ku Raja Jayadewata / Prabu Siliwangi éta kénéh dibuktikeun.

Sanajan Pakuan sempet lila geus ditinggalkeun ku raja, tapi gaya Banten kudu narékahan pikeun nembus, mangka "cara halus" dianggap minangka cara paling luyu pikeun megatkeun kana benteng.

Elehna  Pajajaran, dicirikeun ku dicandakna  Sriman Sriwacana Palangkaraya (pangcalikan mangsa tahta penobatan) ti Pakuan ka Sultan Surasowan di Banten ku pasukan  Panembahan Maulana yusuf . nu biasana dianggo ku para raja Pajajaran pikeun ngangkat raja raja di pajajaran, ieu lokasina di kabuyutan Ageung (teu di karaton).

Dina ngajaga kalayan tradisi, tahta ieu dijieun tina batu jeung digosok mulus, ngagurilap. Batu tahta biasana disebut batu Pangcalikan atawa batu  ranjang.  Batu ieu ukuranana 200 x 160 x 20 cm dipaksa di Boyong ka Banten pikeun mutuskeun tradisi pulitik wayah éta jadi merlukeun. Kahiji, kalayan leungeun-Na dina Palangkaraya, Pakuan euweuh  teu mungkin bisa ngangkat deui  raja nu anyar. Bréh, ku ngabogaan Palangkaraya tidinya lajeng Maulana Yusuf   dianggap panerusna kakawasaan Pajajaran anu sah kusabab dirina teureuh  Rarasantang nyaéta putri Raja Jayadewata/Raden Sunu.

Ibu Kota Pajajaran ngaranna Pakuan pamustunganana ngaleungitkeun tina percaturan kahirupan  salaku pamaréntah puseur tungtungna réngsé sanggeus pasukan  Banten, ngabeuleum  sakabéh ibukota karajaan dugi  ka ancurna  sarta  warga nu panik  ngungsi ka unggal juru. Lolobana, disumputkeun di leuweung gledegan , sarta pagunungan anu teu acan keuna ku manusa.

Sanggeus hasil ngancurkeun Pakuan, pasukan Banten lajeng ka  Pulasari pikeun ngancurkeun ibukota anyar. Raja Seda jeung pengikut satiana ngumpulkeun sakabeh kakuatan ngalawan pasukan Banten. Sanajan kitu, raja tungtungna gugur  sareng  pengikut na teu nyésa. Pajajaran "ngiles" dina bulan  8 Méi 1579 M.

Pajajaran henteu diudar, tapi tilem ngawun-ngawun, ngan engke bakal di Tangtungkeun ku robahna jaman.

Rahayu

Read more

Sabtu, 14 Oktober 2017

SEJARAH YANG TERCABIK

0 komentar

AWAL MANIPULASI SEJARAH BANGSA SUNDA NUSANTARA

by Akang Permana‎ SALAKANAGARA

Pada awal berdirinya negara Amerika Serikat (4 Juli 1776), maharaja Sunda Nusantara, SRI BADUGA MAHARAJA SULTAN ABUL MAFACHIR MOEHAMMAD ALIOEDDIN AL MISRI memberikan pinjaman keuangan/ kolateral (ribuan ton emas) kepada negara Amerika Serikat. Beliau merupakan raja pertama yang mengakui kemerdekaan Amerika Serikat yang dipimpin presiden pertama, George Washington.

Beliau juga turut membantu dalam pembangunan gedung pemerintahan AS, “White House”. Oleh karena itulah bentuk gedung pemerintahan AS, “White House” serupa dengan Istana Bogor (salah satu istana Maharaja Sunda Nusantara).

Mundurnya Inggris bukan lantaran menangnya tentara Amerika, tetapi karena desakan Sultan Alioeddin kepada administratur benua Amerika yaitu Kerajaan Inggris, dalam upaya Sultan ingin menggembalikan pemerintahan Bangsa Malay-Indian (dari arsip kuno yang ditemukan, wilayah Amerika sebenarnya merupakan kerajaan bawahan dari kemaharajaan Sunda Nusantara). Raja Inggris, George III terguncang jiwanya atas kemerdekaan Amerika Serikat, dan menaruh dendam kepada kemaharajaan Sunda Nusantara.

Pada tanggal 10 Mei 1810, pasukan kemaharajaan Sunda Nusantara dibawah pimpinan SRI BADUGA MAHARAJA SULTAN ACHMAD AL MISRI dapat mengalahkan pasukan laut Kerajaan Perancis dibawah komando Herman Williem Daendels, yang hendak menyerang wilayah kedaulatan kemaharajaan Sunda Nusantara. H.W. Daendels beserta pasukannya menyerah tanpa syarat dan H.W Daendels dipenjarakannya. H.W. Daendels adalah perwakilan dari kerajaan Perancis (ketika itu Belanda masih dijajah oleh Perancis). Maharaja Sultan Achmad Al Misri, berkedudukan di Istana Merdeka, Istana Cipanas, Istana Bogor, dan Istana Serosowan Bantan.

Kekalahan tentara laut Perancis dibawah komando Daendels oleh Baginda Sultan Achmad diperingati dengan rasa syukur. Sultan Achmad yang pernah bersekolah di Inggris mengundang sahabatnya Thomas Stanford Raffles untuk merayakannya, karena menganggap Inggris adalah musuh bebuyutan Perancis. Beliau beranggapan bahwa Inggris akan merasa senang bila kemaharajaan Sunda Nusantara berhasil memukul Perancis dan menawan panglimanya. Namun ternyata T.S. Raffles membawa tugas misi khusus dari Raja Inggris, George IV, yang masih dendam pada maharaja Sunda Nusantara atas kemerdekaan negara Amerika Serikat. T.S. Raffles ditugaskan untuk membunuh Sultan Achmad, menghancurkan kemaharajaan Sunda Nusantara, dan membebaskan H.W. Daendels. Karena H.W. Daendels adalah bangsawan De’Orange yang masih sepupu keluarga Buckingham, dan ketika itu Perancis telah kalah oleh Inggris.

T.S. Raffles mengajak Sultan Achmad untuk berkeliling wilayah Nusantara, dengan tujuan Pulau Banda (bagian kepulauan Sunda Kecil, penghasil pala terbaik di dunia). Ketika itu Sultan Achmad hanya dikawal pasukan kecil saja, karena tujuannya hanya sekedar jalan-jalan. Sultan Achmad tidak menyadari bahwa ajakan sahabatnya itu sebenarnya adalah jebakan, karena sebelum keberangkatan, T.S. Raffles telah memerintahkan pasukan AL nya untuk menunggu di Laut Banda. Begitu sampai di laut Banda, rombongan Sultan Achmad dikepung oleh pasukan AL Inggris yang telah siap dengan persenjataan lengkap. Sultan Achmad tidak berdaya, kemudian diikat dan ditinggalkan begitu saja oleh T.S Raffles di sebuah pulau kosong, dengan tujuan agar mati. Kapal kebesaran Sultan Achmad diambil alih oleh T.S. Raffles dengan tujuan agar dia dapat kembali ke pusat kerajaan Sunda Nusantara tanpa dicurigai oleh pasukan kerajaan Sunda Nusantara.

Inilah sebabnya ketika rombongan kapal kebesaran Sultan Achmad (yang telah dikuasai T.S. Raffles) beserta kapal pasukan AL Inggris kembali ke pelabuhan Sunda Kalapa tak ada perlawanan, karena mengira mereka adalah rombongan Sultan Achmad dan sahabatnya T.S. Raffles. Siasat ini menyebabkan T.S. Raffles beserta pasukannya yang telah siap dengan persenjataan lengkap, dapat dengan mudah menduduki pusat kerajaan Sunda Nusantara. Setelah menguasai pusat pemerintahan kerajaan, selanjutnya T.S. Raffles mengambil alih beberapa wilayah strategis hingga sampai Malaka dan Singapura. Untuk melicinkan kepentingan politiknya, T.S. Raffles juga menghilangkan bukti sejarah lainnya dengan menghancurkan Istana Surosowan Banten.

Kemudian pada tahun 1816, T.S. Raffles menyerahkan pendudukan (Annexation) administratif kolonial di wilayah Sunda Nusantara kepada Kerajaan Belanda (sahabat kerajaan Inggris) di Semarang, dan Herman William Daendels diangkat menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda. T.S. Raffles berhasil membebaskan H.W. Daendels dan membuat perjanjian yang intinya mengangkat Daendels sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda dengan syarat mengikuti seluruh skenario rekayasa dan membungkam siapa saja yang mengetahui sejarah ini selanjutnya. Maka dimulailah kekejaman penjajahan Belanda sebagai kepanjangan Kerajaan Inggris.

Peristiwa ini menjadi awal pemalsuan sejarah Sunda Nusantara selama +/- 200 tahun. Sejak saat itu, ribuan ton emas dijarah, yang digunakan untuk modernisasi England & pembangunan persemakmuran negara jajahannya (Kanada, Australia, Singapura, Hongkong, Afrika Selatan dst). Keluarga kerajaan-kerajaan di Nusantara dibantai dan dirampok. Arsip (bukti-bukti) pemerintahan dimusnahkan dan diambil untuk dihilangkan. Sebagian besar arsip yang menuliskan sejarah bumi dan pemerintahan masih disimpan di Mahkamah Internasional di Den Haag dan Universitas Leiden, Amsterdam. Inilah sebabnya Mahkamah Internasional berada di Belanda, karena sejarah aset dunia tersimpan disana beserta literatur pendukungnya.

Hilangnya kepempinan nasional Sunda Nusantara, menyebabkan kerajaan-kerajaan dibawah konfederasi Kemaharajaan Sunda Nusantara menjadi terpecah belah. Sejak saat itu, banyak terjadi perlawanan kepada pemeritah kolonial Hindia Belanda, ditandai dengan meletusnya Perang Pattimura (Maluku, 1817), Perang Paderi (Sumatera Barat, 1821-1837), Perang Diponegoro (Jawa Tengah, 1825-1830), dll. Namun perlawanan dari kerajaan-kerajaan ini dapat dipatahkan oleh Belanda, karena tidak ada persatuan lagi.

Para raja-raja yang soleh dan mau bekerjasama dengan Belanda, diperdaya dengan menyimpan harta emas mereka di Bank Zurich, Jerman, dimana harta Kesultanan Nusantara (Cirebon, G.Pakuan, Banten, Deli, Riau, Kutai, Makasar, Bone, Goa, Luwuk, Ternate, dll,) dalam nilai ratusan trilyun Dollar Amerika (dalam bentuk emas, logam mulia, berlian, dsb) di simpan di Bank Zurich, Jerman. Kemudian karena kekalahan Jerman pada PD I (1911-1914), maka harta tersebut diambil paksa oleh pemenang, Pihak Sekutu, yang selama perang banyak dibiayai oleh organisasi Yahudi. Inilah sebabnya kenapa Jerman benci Yahudi. Kemudian harta-harta tsb. dipercayakan untuk disimpan di negeri Belanda. Namun ketika Belanda kembali terjajah oleh Jerman pada Perang Dunia ke II, maka harta tsb. menjadi tercerai berai, dan sebagian digunakan oleh NAZI untuk membiayai perang mereka. Kekalahan Jerman di perang dunia ke II menyebabkan aset tersebut kemudian dibagi kepada negara Sekutu (dalam hal ini Amerika, Inggris, Prancis, Rusia, Belanda).

Pada tahun 1934, Sultan Paku Buwono X memberikan bantuan jaminan keuangan (kolateral) kepada Liga Bangsa Bangsa (LBB) di Amerika Serikat, dengan tujuan membantu kebangkrutan ekonomi dunia. Liga Bangsa Bangsa (LBB) adalah cikal bakal dari Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Tercatat emas yg diberikan 57.169 ton emas 24 karat, yg kemudian diAKUI oleh pihak AS dalam perjanjian “The Green Hilton Agreement” & disaksikan Sri Paus (Vatikan).

Paska proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia (17 Agustus 1945), para Sultan/ Raja (konfederasi) dibawah Kemaharajaan Sunda Nusantara mendukung pemerintah Republik Indonesia dibawah kepemimpinan presiden pertama Ir. Soekarno, dengan syarat beliau juga bersedia memulihkan Kekaisaran Sunda Nusantara (maksudnya tetap mengakui keberadaan para Sultan/Raja di wilayah Sunda Nusantara, sebagaimana halnya di Malaysia atau Inggris). Presiden Soekarno setuju syarat tsb., dan oleh karena itu beliau juga diberi tahu mengenai aset bangsanya yang dipergunakan oleh bangsa lain dan digelapkan. Beliau juga diamanahkan oleh para Sultan/Raja Sunda Nusantara untuk berusaha mengembalikan aset bangsa tsb.

Atas hal tersebut maka Ir. Soekarno mengirim surat rahasia ke PBB, dan menyampaikan gugatan kepada negara Sekutu untuk mengembalikan aset bangsa tsb. dalam rangka pembangunan kembali bangsa Sunda Nusantara. Ingat uang kita sebelum Rupiah menggunakan nama SEN (SN=Sunda Nusantara). Labrakan Ir. Soekarno kepada berbagai ketidakadilan dan imperialisme dunia, karena beliau menyadari bahwa “Indonesia” adalah “SUPER POWER” sesungguhnya dan pemegang amanah dunia.

Gugatan Ir. Soekarno baru disambut baik, ketika Amerika Serikat dipimpin oleh presiden John F. Kennedy, dengan harapan AS mendapat dukungan Ir. Soekarno dalam perlawanan menghambat komunisme. Pada tahap awal disetujui pengembalian aset bangsa Sunda Nusantara pada tahun 1963, dengan ditandatanganinya perjanjian “Green Hilton Agreement”, yaitu pengembalian 57.147 ton emas kepada rakyat Republik Indonesia (pemilik sah) melalui pemerintahan Republik Indonesia sebagi pengemban amanah Kekaisaran Sunda Nusantara (Imperium of Zhunda Nuswantara), dengan disaksikan Sri Paus, yang banyak mengetahui sejarah aset dunia. Sayangnya rencana ini tidak berjalan baik, karena terjadi pembunuhan terhadap presiden John F. Kennedy, pada tahun 1964. Diduga pembunuhan ini dilakukan oleh organisasi rahasia Yahudi, yang menguasai ekonomi dan menyetir arah politik negeri AS hingga saat ini (Presiden John F. Kennedy tidak mau bekerjasama dengan organisasi ini).

Paska pembunuhan presiden John F. Kennedy, di bumi Nusantara juga terjadi gerakan penggulingan presiden Soekarno pada tahun 1965, yang diduga didalangi oleh CIA (dibawah kendali organisasi rahasia Yahudi). Kekayaan aset Nusantara masih banyak tersimpan di 93 account di bank-bank utama didunia (ciri negaranya berbendera merah dan putih menandakan sumber asetnya).

Organisasi rahasia Yahudi ini diduga hingga saat ini masih menjalankan misinya dalam rangka membentuk tatanan dunia baru di bawah kepemimpinan Yahudi, dengan menguasai sektor keuangan dunia (IMF), bisnis persenjataan, bisnis media dan sistem informasi, serta bisnis strategis lainnya. Pemalsuan sejarah bangsa-bangsa di dunia, termasuk bangsa Sunda Nusantara juga didalangi oleh organisasi tersebut. Oleh karena itulah 90% bangsa kita tidak percaya akan cerita sejarah kebesaran bangsanya karena distorsi informasi ini, dan sebagian lagi tidak mau tahu karena lebih mengejar materi.

Marilah kita simak Doktrin Zionisme (Protocol VI) yang menyatakan:
“Kehancuran kekuasaan akan terjadi setelah orang-orang berilmu (aristocrat) kaum ‘the goyim’ jatuh statusnya menjadi kaum proletar bersamaan dengan kredit negara-negara yang semakin meningkat, karena ketergantungan mereka yang sangat besar kepada kegiatan monopoli berskala besar, yang kita bangun, yang menjadi sumber penghasilan mereka. Di satu sisi, promosi Pemerintahan Super sebagai pelindung dan pemberi kesejahteraan kepada mereka, kita terus tingkatkan.

Kelompok aristocrat non Yahudi masih tetap berbahaya bagi kita, karena mereka masih berstatus memiliki tanah-tanah pertanian yang bisa memenuhi kebutuhan mereka. Berbagai cara kita kembangkan agar tanah-tanah itu jatuh ke tangan kita dan kita kuasai, yaitu dengan cara:
1. Menaikkan beban tanah tersebut dengan cara menaikkan hutang mereka, dengan jaminan tanah-tanah mereka yang menyebabkan kepemilikan tanah terikat kepada kita dan pemiliknya akan tunduk tanpa syarat;
2. Kita bikin sulit kehidupan orang-orang berilmu (aristocrat) kaum non Yahudi yang akhirnya mereka akan musnah, karena kaum aristocrat mereka terbiasa dengan kehidupan yang mudah dan mewah;
3. Aktivitas spekulasi kita naikkan untuk mengembangkan kegiatan industri dan perdagangan, sehingga kegiatan industri akan semakin menguat;
4. Dengan kegiatan industri yang menguat, kita sedot sumberdaya manusia dan modal (finansial) dari tanah-tanah pertanian tersebut dan akhirnya, ke dua sumberdaya tadi akan berpindah tangan ke kita berupa akumulasi harta kekayaan, sehingga kaum aristocrat non yahudi akan jatuh statusnya menjadi kaum proletar;
5. Gaya hidup mewah kita perkenalkan kepada kaum aristocrat non Yahudi, yaitu dengan kita naikkan taraf pendapatan mereka, tetapi mereka harus membeli kebutuhan pokok dengan harga yang tinggi, karena berkurangnya hasil-hasil pertanian dan peternakan;
6. Kita ajarkan faham anarkis dan mabuk-mabukan kepada kaum buruh non Yahudi sebagai kaum terpelajarnya mereka yang akan mengurangi kegiatan industri dan menyempitnya lapangan pekerjaan.

Akhirnya, kaum aristocrat non Yahudi akan tunduk kepada kita hanya agar eksistensi mereka tetap dihargai dan mereka tidak menyadari bahwa kita tetap akan memusnahkan mereka. Kita samarkan proses keseluruhan ini dengan istilah meningkatkan produktivitas buruh melalui teori-teori politik ekonomi yang para ahli ekonomi kita ajarkan terhadap kegiatan-kegiatan tersebut.”

Pada era pemerintahan Ir. Soekarno, beliau begitu lantang mengumandangkan politik “BERDIKARI” atau Berdiri Dengan Kaki Sendiri, bahwa bangsa Sunda Nusantara harus dapat mandiri, jangan tergantung kepada negara lain. Pada bulan Agustus 1965, beliau mengatakan “go to hell with your aid” sebagai kata talak/perceraian dengan IMF serta Bank Dunia dan memutuskan membangun Nusantara secara mandiri. Sayangnya politik ”BERDIKARI ini tidak berlangsung lama, karena pada bulan September 1965 terjadi kudeta berdarah terhadap presiden Soekarno (kudeta ini diduga melibatkan CIA). Selanjutnya dimulailah rezim orde baru dibawah kepemimpinan Soeharto, yang kebijakan politiknya dekat dengan kepentingan Amerika Serikat.

Bagaimana dengan kondisi negeri kita saat ini?? Sudahkah bangsa kita hidup dan berkehidupan seperti yang tercantum dalam doktrin Zionisme di atas…??? Bila kita tidak segera menyadarinya, maka bangsa kita akan menjadi jongosnya bangsa-bangsa adi kuasa dan akan menjadi kepanjangan tangan dari negara-negara adi kuasa/kaya (istilahnya negara donor

Read more

Rabu, 19 Oktober 2016

KARUHUN SUNDA NU AGUNG

0 komentar
RA mangrupikeun hiji konsep KETUHANAN dina rarangka ngaranan Nagara Indonesia keur baheula, nu ngandung harti nyeta "BUR" atawa Panon Poe/Matahari atawa Mahacahaya atawa Mahadewa.

RA mangrupakeun Silib-siloka atawa simbol SANG HYANG TUNGGAL nu ngajadikeun titik orientasi pa-nyembahan ka Gusti Nu Maha Tunggal / Tuhan YME, nu di aplikasikeun dina KETATA-NEGARAAN.

RA oge mangrupakeun identitas bangsa Indonesia keur jaman baheula disebut oge minangka BANGSA MATAHARI atawa NEGERI MATAHARI, para panalungtik Barat/ Eropa sok seringnyebutkeun BANGSA ARYA.
 
Sebutan DWIPANTA-RA mangrupikeun rarangkai atawa gabungan babaraha kecap nu dicokot tina rangkai atawa pola lentong basa SANG SA KERTA nyaeta :

DWI = Sapasang (2)
PA = Tempat
NA = Seuneu
TA = Gerak kahirupan
RA = Bangsa Panon Poe/Matahari
Maka, arti kecap DWIPANTA-RA nyaeta: "Sapasang Tempat seuneu Gerak Kahirupan Bangsa Panon Poe/Matahari" .

Jaman DWIPANTA-RA ayana diantara jaman SWARGANTA-RA jeung NUSANTA-RA. Ngan masih susah nangtukeun waktu/Kala atawa mangsa-na, ngan diduga ayana sawaktu ngabeledagna Gunung-gunung seuneu di wewengkon urang, mun ditingali tina waktu (time line) bisa dirundaykeun saperti kieu :

0. Jaman Purwa-Naga-Ra... (?)
1. Jaman Dirgantara (kawasan Gn. Bataraguru / Dn. Toba)
2. Jaman Swargantara (kawasan Gn. Karakatwa)
3. Jaman DWIPANTARA (kawasan Gn. Tangkuban Parahu)
4. Jaman Nusantara (kawasan Gn. Brahma / Bromo)
5. Jaman Re-Publik Indonesia (*seharusnya kawasan Gn. Agung - P. Bali)

Jaman Dwipanta-Ra dimimitian di daerah Jawa-Barat sa’tileum-na puser Pamarentahan Kemaharajaan Swarganta-Ra di Selat Sunda akibat letusan Gn. Karakatwa.

Saperti tina konsep ketata-negaraan sa’acana, maka Puser Pamarentahan Dwipanta-Ra oge diadegkeun disabudeureun gunung nu pang gede na jeung pang luhur na, nya pilihan repok jeung kawasan Gunung Tangkuban Pa-Ra-Hyang (Hu) nu waktu harita masih ngaboga’an keneh Puncak-na.
Jaman/Era Dwipanta-Ra di mimitian ku Maharaja Sang Hyang Watu Gunung Ratu Agung Manikmaya (SITUMANG) anu ngieun konsep "DWI-PA" ... (*konsep ieu aya kamungkinan para karuhun diajar tina dampak meletusna gunung-gunung karuhuna, jadi ngieun dua konsep atawa sistem katata-nagaraan). Nyaeta ayana system PA-RA-HYANG dan PA-DA-HYANG atawa PARANG jeung PADANG.

Sang Hyang Watu Gunung Ratu Agung Manikmaya ngadeug minangka RAMA keur sakumna nagara dina kakawasa’an Kemaharajaan Dwipanta-Ra make simbol TRI-SU-LA-NAGA-RA nu intina ngabogaan konsep ketata-nagaraan RESI-RATU-RAMA-SANG HYANG (SITUMANG) jeung cicirena aya di Bukit Tunggul (Bukti Unggul).

Waktu harita nu nyekel Kakawasaan pangluhurna nyatana Maharatu Resi Prabhu Sindu La-Hyang nu ngageugeuh di Alengka Dirja (sekitar Cicalengka).
Prabhu Sindu La-Hyang ngagaduhan dua katurunan :

  1. Galuh Kandiawati nu gaduh gelar DEWI MA-HYANG SUNDA (Dewi Mayang Sunda/ Dayang Sum-bi).
  2. Jalu Kandiawan nu ngagaduhan gelar DEWA TA-CENGKAR (Ratu Kendan / P. Jawa).

GALUH KANDIAWATI nikah sareng PANGERAN WISNU GOPA ngagaduhan 5 Katurunan :

1. Sang Hyang Nandiswara
2. Sang Hyang Gargha
3. Sang Hyang Purusha
4. Sang Hyang Putri Maistri
5. Sang Hyang Puntajala

Sakabeh katurunanana kawentar/ kakoncara ku landihan PANCA PUTRA SUNDA (Panca Kusika / Panca Dewa / Pandawa) nu nyepeng misi atawa maksud nyebarkeun konsep tata-nagara kahayang Karuhun DWI-PA. di jaman ieu konsep kenegaraan PA-RA-HYANG dimimitian nyebar sa-buana nu diemban/ ku sakabeh GURU HYANG (Sang Guru Hyang) jeung urang Sunda leuwih wawuh kana arana SANGKURIANG :

  1. Ja-Ambu Dwi-Pa (Jambu Dwipa) di wilayah PA-RA-HYANG puserna di La-Ambu Hyang (Lembu Hyang atawa LEMBANG).
  2. Jawa Dwi-Pa Puserna di wilayah Gn. MERAPI
  3. Su-Waruna Dwi-Pa di Su-Ma-Ta-Ra puser pamarentahana di sekitar Gn. MARAPI - Pariangan daerah Pa-Da-Hyang / Padang BUKIT TINGGI.
  4. Simhala Dwi-Pa di wilayah Su-La-Wesi sekitar pegunungan Bawakaraeng (BA-WA-KA-RA-HYANG).
  5. Baruna Dwi-Pa di wilayah Baruna atau Borneo atawa Brunai (Kalimantan)... diduga ayana di sekitar kawasan BUKIT RAYA atawa Bukit Agung.
PA-RA-HYANG mangrupakeun puser (inti) pamarentahan, PA-DA-HYANG ngarupakeun wilayah ngalega’ana daerah ajaran SUNDA nu ngawasa’an nyampe AFRIKA - INDIA - CINA - JEPANG bahkan asup sabian wewengkon EROPA.

Jaman kajayaan DWIPANTARA lumangsung +/- 10.000 taun lebih, jeung pugag di jaman kakawasa’an Maharaja Resi Prabhu Air Langga, sabab aya parobahan politik akibat kamajuan jaman atawa kemajuan satiap nagara nu haying leupas tina kakawasa’an Kemaharajaan Dwipanta-Ra.

Satutasna rengse jaman Dwipanta-Ra maka 'Indonesia' ngasupan jaman Nusanta-Ra nu dimimitian ku Raden Wijaya (Jaka Susuru). Tapi kakawasa’ana nyempitan teu kawas Karuhuna kakawasaan Nusantara legana saperti nu jadi Nagara Indonesia kiwari.

Rahayu...!
Read more

Minggu, 16 Oktober 2016

"SUNDA ASAL BUDAYA MANUSA"

0 komentar

"Obrolan di basisir Sawarna"

Tisaprak jaman Nabi Adam Nu Arana si "ETA" moal eureun ngaganggu atawa ngabelotkeun Akidah ka Bani2/turunan Adam/SUNDA, (Sumpah Si Eta Sampe Bani Adam Akhir Jaman).

Targetna nyaeta kaTauhidan (Peng'esa'an) Alloh, Bani Adam sampai fase NUH di punahkeun (ku Ca'ah badag) sabab kasombonganana tina ngawangun bangunan anu Aheng seperti Pupunden (Gunung Padang) nu mungkin teu kaudag ku teknologi jaman kiwari, Umat Nabi NUH punah di sesakeun 80 pasang (Sakaol 40 pasang) tina pedaran katerangan Peradaban Gunung padang ngalaman 4 (opat) jaman nyaeta (25,000 SM, 12,000 SM, 4000-5000 SM, jeung 1400 M) dumasar ngukur tina Karbon taneuh lokasi situs Pupunden, Jeung terus nyebar nyampe kiwari.

Si"Eta" nebarkeun paham kamunafekan (nyesatkeun tapi teu kaciri sabab di poles ku tradisi leluhur) kucara nyalenggorkeun tina Akidah penyembahan, pengkultusan tokoh nu dianggap Agung saperti (Maha Raja Shindu La Hyang) mun dikawasan Paparan Sunda (Sintho mun di jepang) Dewa RA mun di Mesir, kaluar adat sareng kabiasa'an/budaya di tiap2 bangsa. jeung eta Kaum ngarasa aing pangbenerna eta nu disembahna.

Ti saprak jaman NUH (5000 - 4000 SM) loba Utusan Gusti  tiap-tiap kaum/bangsa sadunya, aya Sakaol jumlahna sampe ka 124.000 utusan/Nabi/Batara, kabeh eta utusan ngajarkeun Nunggalkeun/KATOHIDAN (Peng'Esa'an Tuhan).

Jaman Nabi NUH, Si "Eta" tetep nyalenggorkeun Bani Adam?Sunda make Modus pengkultusan sesembah ka sasama Manusa jeung Ngieun Berhala-berhala/ Arca (Catatan: Lain patung nu nilai estetika/seni) tapi berhala anu di sembah jeung nudi puja-puja) jeung manehna (si"Eta) tetep milih utusan ti Bani-bani Adam/ Sunda/Manusa. Nepi ka fase Nabi Ibrohim/Brahma/Abraham (1800 SM) ngancurkeun Berhala nudipake sesembahan Umat jaman harita, mun di Nusantara jaman Galuh purwa (taksiran hehe... hampura).

Ajaran Maluruh Kamanunggalan Gusti (Ardhi) satiap wewengkon beda-beda, nya kitu deui kanjeng Nabi Ibrohim nu tadina nganggap Bulan (Purnama), panon poe (Hyang Manon) Dewa RA (Seuneu) jrrd eta teh nu kawasa HYANG nu akhirna manggihan kaTauhidan ku jalan tatapa/tafakur nutuluy meunang Wahyu atawa wangsit (ceuk urang sunda) ti Gusti/ Hyang, nu antukna nerapkeun ajaran Katauhidan waktu harita (Monotaisme) Manunggal Gusti (Tauhid).

Jaman nabi Ibrohim utusan si "Eta" nyaeta Rajana sorangan nyaeta Nabrud/Namroz, sampe ka dibeuleumna Ibrohim harita ku Namrud, supaya ngeureunan faham Monotaisme/penyembahan satu tuhan/Esa.

Istri Nabi Ibrohim nu di catat di Al-Qur'an aya dua nyaeta Sarah sareng Hajar nupada-pada gaduh putra masing-masing hiji, tapi Kuring mendakan deui hiji carita/catatan nu aya di Kitab Injil Bab Perjanjian lama yen selain Sarah sareng Hajar, Nabi Ibrohim ngagaduhan deui istri nu namina Siti KETURAH nu ngagaduhan putra 6 (genep) urang nu nyebar ka Benua Asia/ Buana Panca tengah (Katimur).  Eta ka genep putrana Ibrohim dipasihan pakakas sareng tulisan/buku nu diamanatkeun ku kanjeng Nabi ka pala Putrana...

Dina tulisan eta kitab yen Nabi Ibrohim kawas wanti-wanti pisan jeung dareuda ngawejang putra-putrana, hal ieu nunjukeun amanatna kalintang pentingna (ngan hanjakal amanat eta teu ditulis di kitab injil). ieu tulisan nu ku kuring dikutip "Ketura (bahasa Ibrani: קְטוּרָה, Ktura ,Qəṭûrā, artinya "dupa atau kemenyan"; bahasa Inggris: Keturah) adalah istri ke-3 (atau gundik[1]) Abraham menurut Alkitab Ibrani dan Perjanjian Lama Alkitab Kristen.[2] Abraham mengambil Keturah sebagai istrinya setelah Sara meninggal[3] dan sebelum Ishak dan Ribka/Hajar mempunyai anak, sebab Ribka/Hajar pada mulanya dianggap mandul[4] dan baru melahirkan anak-anak ketika Abraham berusia 160 tahun (Ishak berusia 60 tahun)"

Tiharita peradaban/Kabudaya'an kawas ditarik kabeh ka wilayah timur sareng bangsa eropah, kabeh pada ngaku kabudayaan manehna nu pangkolotna atawa pangheulana, Yunani ngaku peradaban manehna taun 7500 SM, Mesir ngaku peradabana 5000 SM, suku Maya (benua amerika 500 SM) wah pokona maranehna ngarasa pang-pang na lah...

Harita nalika di Timur tengah (Israel ayeuna) kawentar aya utusan Alloh nu Namina Nabi MUSA (1527-1407 SM) Musa bin Imran bin Fahis bin 'Azir bin Lawi bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim bin Azara bin Nahur bin Suruj bin Ra'u bin Falij bin 'Abir bin Syalih bin Arfahsad bin Syam bin Nuh sareng Nabi Harun nyiarkeun Ageuman Tauhid tuturus ti Nabi Ibrohim, anjeuna di Kacaukeun ajarana ku SAMIRI (tingali di Al-Qur'an, Surat Al- Baqoroh), umatna dititah deui nyembah ka Patung Sapi nu digieun tina Emas, ti harita kacau deui ajaran Katauhidan di Timur tengah, benten jeung Urang Sunda, tetep eksis jeung paten nyembah SangHyang Tunggal nu aya di Buana Nyungcung. tapi ritualna make adab atawa tatali paranti karuhunna baheula.
(Catatan : Nabi-nabi sa'acana Kangjeun Nabi Muhammad/ Ahmad di utus can aya persama'an penyembahan ka Gusti, satiap Bangsa ngan diutus Nabi jeung Bangsa na wungkul.)... jadi ulah aneh setiap Bangsa beda-beda praktek nyembah ka Gustina, sabab can aya Nabi/ Rosul Pemersatu.

Tah nu arana Iblis/Haris/Lucifer teh boga Duta/wali/utusan di masing-masing Bangsa, modus operandina beda-beda, termasuk di wilayah Sunda. aya secara terang-terangan aya secara nyamuni (nyumput dinu ca'ang)....



#Cagdeui....
Read more

PUPUHU

Foto saya
Saya adalah Insan tani Karawang, yang tetap menjungjung Budaya Leluhur Sunda.

PUPUHU

PUPUHU
KI RASA

SEKJEND

SEKJEND
BONAN SANGGABUANA

NU GADUH ARTOS

NU GADUH ARTOS
KANG JAENUDIN, AR

EYANG SINGA

EYANG SINGA
NU NGAPING

Cari berita blog

DAFTAR

YANG SERING DIBACA

 
 PAGUYUBAN KUTATANDINGAN _ KARAWANG 2012    -PEMILIK-  KUTATANDINGAN email:encumnurhidayat@gmail.com